Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menghadiri Festival Cap Go Meh yang menjadi penutup rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek di kawasan Chinatown Pancoran, Glodok, Jakarta Barat, Selasa (3/3/2026). Kehadiran Pramono didampingi sejumlah pejabat, di antaranya Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri, Pangdam Jaya Mayjen Deddy Suryadi, serta Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronika Tan.
Festival Cap Go Meh merupakan penanda berakhirnya rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek yang dirayakan pada hari ke-15 bulan pertama dalam penanggalan Tionghoa saat bulan purnama. Selain pejabat pemerintahan, sejumlah tokoh juga turut hadir dalam perayaan tersebut, termasuk mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Sutiyoso, dan Fauzi Bowo.
Perayaan dimulai dengan berbagai atraksi budaya yang memeriahkan suasana, seperti pertunjukan barongsai yang menjadi ikon perayaan budaya Tionghoa, serta penampilan ondel-ondel yang merepresentasikan budaya Betawi. Menurut Pramono Anung, perpaduan dua budaya tersebut menjadi simbol pentingnya toleransi yang harus terus dijaga dalam kehidupan bermasyarakat.

Salah satu daya tarik utama dalam festival ini adalah penampilan tim barongsai Kong Ha Hong, tim barongsai Indonesia yang telah lima kali meraih gelar juara dunia.
Pramono Anung juga mengapresiasi terselenggaranya perayaan Cap Go Meh tahun ini. Ia menilai masyarakat Tionghoa memiliki peran besar dalam perkembangan Kota Jakarta. Menurutnya, perayaan Imlek yang berdekatan dengan datangnya bulan suci Ramadan menjadi momentum untuk memperkuat keharmonisan antarumat beragama.
Ia menambahkan, penataan ornamen Cap Go Meh yang tetap rapi menjelang Ramadan menunjukkan upaya menjaga keseimbangan dan saling menghormati antar masyarakat yang berbeda keyakinan.
Dalam kesempatan tersebut, Pramono juga menyinggung peran tokoh nasional dalam membuka ruang perayaan budaya Tionghoa di Indonesia. Ia menyebut kebijakan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid yang mencabut larangan perayaan Imlek serta Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri yang menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional sebagai langkah penting dalam menjaga keberagaman budaya.
Menurutnya, kesuksesan perayaan Cap Go Meh juga tidak lepas dari peran masyarakat yang terus menjaga tradisi dan kebersamaan.
Pramono menilai kawasan Glodok, Jakarta Barat, yang menjadi lokasi festival memiliki potensi besar sebagai kawasan budaya dan pariwisata. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun berkomitmen untuk terus menjaga dan mengembangkan kawasan tersebut sebagai simbol keberagaman budaya.
Sebagai bentuk keseriusan dalam merawat warisan budaya Tionghoa, Pemprov DKI Jakarta juga berencana membangun Museum Peranakan Tionghoa di Jalan Keadilan. Museum tersebut diharapkan menjadi simbol keberagaman Jakarta sekaligus mendukung pengembangan kawasan Kota Tua, Monas, dan Harmoni sebagai kawasan transit oriented development (TOD).
Pada perayaan Cap Go Meh di Tahun Kuda Api ini, masyarakat Tionghoa berharap membawa keberuntungan, kedamaian, kesehatan, serta kemakmuran di tahun yang baru.
Peliput : Danny M.P
Editor : Redaksi jurnal8.id
