Polda Banten Identifikasi Satu Korban Kapal Arupadhatu 1 yang Hilang di Selat Sunda
- account_circle Taufik Hidayat
- calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SERANG – Operasi Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri berhasil mengidentifikasi satu korban kapal Arupadhatu 1 yang hilang kontak di perairan Selat Sunda saat melakukan peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Korban yang berhasil diidentifikasi merupakan SU, salah satu Anak Buah Kapal (ABK) Arupadhatu 1. Jenazah sebelumnya ditemukan tanpa identitas di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.
Proses identifikasi dilakukan melalui koordinasi Biddokkes Polda Banten dengan Biddokkes Polda Bengkulu dan kemudian ditindaklanjuti oleh tim DVI Pusdokkes Polri.
Kapolda Banten Irjen Pol Hengki mengatakan, proses identifikasi dilakukan dengan mencocokkan data antemortem milik keluarga korban dengan data jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano.
“Setelah menerima informasi adanya penemuan jenazah di wilayah Pulau Enggano, kami berkoordinasi dengan Polda Bengkulu untuk dilakukan proses identifikasi dan pencocokan dengan data antemortem dari keluarga korban kapal Arupadhatu 1,” ujar Hengki dalam konferensi pers, Rabu (23/9/2026).
Identifikasi dilakukan menggunakan sejumlah data primer, yakni sidik jari, data gigi, serta pemeriksaan DNA dari keluarga korban.
Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA oleh Operasi DVI Pusdokkes Polri, jenazah yang sebelumnya berstatus Mr X tersebut secara genetis teridentifikasi sebagai SU, ABK kapal Arupadhatu 1 yang menjadi salah satu korban hilang kontak ketika kapal tersebut melakukan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau.
Hengki menyebut hasil identifikasi tersebut menjadi bagian penting dalam penanganan para korban kapal Arupadhatu 1 yang hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Kapal Hilang Kontak Saat Meliput Erupsi Anak Krakatau
Kapal Arupadhatu 1 sebelumnya bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB. Kapal tersebut membawa lima jurnalis dan tiga kru menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan aktivitas erupsi.
Informasi mengenai hilangnya kontak dengan kapal diterima Kapolsek Carita Iptu Supandi pada Selasa, 8 September 2026 pukul 13.55 WIB dari seorang jurnalis Antara Banten.
Pencarian kemudian dilakukan bersama unsur terkait dengan membagi wilayah operasi ke dalam sejumlah sektor.
Hingga hari ke-10 pencarian, sebanyak 24 kapal dikerahkan dalam 11 sektor pencarian. Dalam operasi tersebut, petugas menemukan sejumlah objek yang diduga berkaitan dengan aktivitas pencarian, antara lain life jacket, pelampung botol, helm plastik, jeriken, terpal, dan galon air.
Operasi SAR Diperpanjang Tiga Hari
Kepala Basarnas Banten Al Amrad menjelaskan, operasi pencarian dilaksanakan sesuai ketentuan selama tujuh hari dan kemudian diperpanjang tiga hari berdasarkan hasil evaluasi di lapangan.
“Secara aturan, pencarian kami terlaksana selama tujuh hari. Setelah tujuh hari, kami lakukan perpanjangan selama tiga hari,” kata Al Amrad.
Dalam pelaksanaan pencarian selama tujuh hari, tim memperoleh informasi mengenai penemuan jenazah pada 12 September. Selanjutnya, hingga 14 September dilakukan evaluasi sebelum operasi diperpanjang selama tiga hari.
Namun, selama masa perpanjangan tersebut, tim tidak menemukan tanda-tanda korban lainnya.
“Dari tiga hari pelaksanaan perpanjangan yang kami laksanakan, tidak ada tanda-tanda korban yang kami temukan selain objek-objek yang sudah kami sampaikan pada saat di lapangan. Karena itu, kami melakukan tindak lanjut evakuasi dan penghentian operasi pencarian,” jelas Al Amrad.
Identifikasi Jenazah Dilakukan Secara Ilmiah
Al Amrad menjelaskan bahwa jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano tidak langsung dinyatakan sebagai korban kapal Arupadhatu 1. Tim terlebih dahulu menunggu hasil identifikasi ilmiah dan pencocokan dengan data keluarga.
Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk memastikan identitas korban sebelum informasi disampaikan kepada publik.
Setelah operasi pencarian resmi dihentikan, Basarnas tetap melakukan koordinasi dengan sejumlah Kantor SAR dan unsur terkait di wilayah yang diperkirakan memiliki keterkaitan dengan area pencarian.
Koordinasi dilakukan dengan Kantor SAR Bengkulu dan Kantor SAR Lampung, termasuk dengan nelayan di wilayah pesisir.
“Untuk wilayah Bengkulu sampai saat ini teman-teman dari tim gabungan masih melakukan penyisiran dengan informasi-informasi yang kami terima. Tindakan yang saat ini kami lakukan adalah koordinasi, termasuk edukasi kepada instansi terkait, nelayan dan masyarakat yang berada di wilayah pesisir, termasuk di sekitar Pulau Enggano,” ujar Al Amrad.
Pencarian kapal Arupadhatu 1 sebelumnya melibatkan unsur gabungan dari berbagai instansi dengan cakupan wilayah perairan mulai dari Banten, Lampung hingga Bengkulu.
Meski operasi pencarian resmi telah dihentikan berdasarkan hasil evaluasi dan ketentuan operasi SAR, koordinasi dan pemantauan terhadap informasi dari masyarakat pesisir tetap dilakukan untuk menindaklanjuti setiap informasi yang berpotensi berkaitan dengan korban maupun objek dari kapal Arupadhatu 1.



- Penulis: Taufik Hidayat
- Editor: Redaksi jurnal8.id
- Sumber: Humas Polda Banten


Saat ini belum ada komentar