Erupsi Anak Krakatau Masih Terjadi, Gubernur Banten Perpanjang PJJ hingga Jumat
- account_circle Danny M.P
- calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
- visibility 16
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BANTEN,8 September 2026 — Aktivitas Gunung api Anak Krakatau masih menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Banten. Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, setelah terjadi erupsi terus-menerus selama sekitar 25 jam, aktivitas erupsi kini berlangsung dalam durasi yang lebih singkat.
Andra menjelaskan, erupsi terus-menerus sebelumnya berlangsung sejak Jumat malam hingga Sabtu tengah malam. Setelah sempat berhenti, erupsi kembali terjadi pada Minggu pagi.
“Setelah terjadinya erupsi terus-menerus selama 25 jam, erupsi sempat berhenti, sempat istirahat dan kemudian terjadi lagi erupsi jam 4 pagi dan 7 pagi pada hari Minggu,” ujar Andra.
Menurutnya, karakter erupsi yang terjadi setelah episode erupsi terus-menerus tersebut berbeda. Erupsi tidak lagi berlangsung secara menerus, melainkan hanya terjadi selama beberapa detik.
Sejak episode erupsi terus-menerus tersebut, tercatat sebanyak tujuh kali erupsi dengan durasi beberapa detik. Hingga kini, Gunungapi Anak Krakatau juga masih mengeluarkan abu dan material vulkanik.
Pemerintah Provinsi Banten mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta tidak mendekati kawasan Gunungapi Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.

Gubernur Banten, Andra Soni saat diwawancarai usai Rapat di Pos Pemantauan Gunung Api Anak Krakatau Pasauran Banten
Selain itu, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan. Apabila harus beraktivitas di luar rumah, warga dianjurkan menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.
Andra mengatakan, dampak abu vulkanik juga mulai terlihat dari meningkatnya laporan terkait Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Banten.
“Dalam situasi normal terjadi sekitar dua ribuan laporan ISPA, sekarang meningkat menjadi 4 ribu lebih,” kata Andra.
Pemerintah Provinsi Banten, kata Andra, terus melakukan pemantauan terhadap kualitas udara. Berdasarkan pemantauan terbaru, kondisi kualitas udara disebut sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama terhadap kelompok rentan seperti anak-anak.
Atas pertimbangan tersebut, Pemerintah Provinsi Banten memutuskan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dilanjutkan hingga Jumat.
Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi untuk mengurangi paparan abu vulkanik terhadap peserta didik, khususnya anak-anak.
Andra Soni mengatakan, pengalaman tsunami yang pernah terjadi di Banten menjadi pembelajaran penting bagi pemerintah daerah dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Ia mengakui bahwa peristiwa tsunami tersebut sebelumnya tidak diprediksi sehingga menjadi evaluasi bagi pemerintah dalam memperkuat sistem mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat.
Untuk menghadapi potensi bencana yang berkaitan dengan aktivitas Gunungapi Anak Krakatau, Pemprov Banten saat ini mengandalkan rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sebagai dasar dalam mengambil langkah penanganan.
Di sisi lain, mitigasi di tingkat masyarakat terus dilakukan secara berkala, termasuk melalui simulasi kebencanaan bagi warga, khususnya masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir.
“Kami telah memantau kualitas udara sampai saat ini kualitas udara kita memang lebih baik daripada sebelumnya tapi tetap masih perlu diwaspadai khususnya untuk anak-anak,” ujar Andra.
Pemprov Banten juga memastikan akan terus berkoordinasi dengan otoritas yang ditugaskan negara untuk memantau dan mengamati perkembangan aktivitas Gunungapi Anak Krakatau.
Andra menegaskan, koordinasi dan pemantauan akan terus dilakukan untuk memastikan setiap perkembangan aktivitas gunungapi dapat segera direspons dengan langkah mitigasi yang tepat.
- Penulis: Danny M.P
- Editor: Redaksi jurnal8.id


Saat ini belum ada komentar