Gunung Anak Krakatau Tetap Level III Siaga, Potensi Letusan Masih Tinggi
- account_circle Danny M.P
- calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
- visibility 18
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LAMPUNG — Aktivitas Gunungapi Anak Krakatau di Provinsi Lampung masih berada pada Level III (Siaga). Berdasarkan evaluasi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hingga 9 September 2026 pukul 06.00 WIB, probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode waktu selanjutnya masih tergolong tinggi.
Badan Geologi menyebut aktivitas Gunungapi Anak Krakatau terus mengalami dinamika. Dalam periode pengamatan 8–9 September 2026, gunungapi terpantau jelas hingga tertutup kabut. Cuaca di sekitar gunung cerah hingga mendung dengan angin lemah hingga sedang yang bertiup ke arah utara dan barat laut.
Pengamatan visual juga memperlihatkan adanya erupsi, meskipun tinggi kolom erupsi tidak teramati.
Dari sisi instrumental, selama periode tersebut tercatat 6 kali Gempa Erupsi, 1 kali Gempa Hembusan, 50 kali Gempa Low Frequency, 77 kali Gempa Vulkanik-Dalam, 4 kali Gempa Tektonik Lokal, 1 kali Gempa Tektonik Jauh, dan 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal.
Energi aktivitas vulkanik yang tercermin melalui nilai perataan amplitudo RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) terpantau berfluktuatif dalam rentang rendah. Sementara itu, data tiltmeter dari Stasiun Tanjung dan Lava93 menunjukkan kecenderungan pola mendatar atau relatif konstan yang mengindikasikan belum adanya peningkatan.
Badan Geologi menjelaskan, satu episode erupsi menerus yang dimulai pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB telah berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB, setelah berlangsung selama sekitar 25 jam.
Setelah berakhirnya erupsi menerus tersebut hingga 9 September 2026 pukul 06.00 WIB, tercatat 12 kali erupsi Strombolian.
Kembalinya erupsi Strombolian yang merupakan salah satu karakteristik erupsi Gunungapi Anak Krakatau untuk sementara diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang.
Meski demikian, Badan Geologi menegaskan dinamika kegunungapian Gunungapi Anak Krakatau masih terus dipantau dan dievaluasi. Probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode waktu selanjutnya masih tinggi.
Potensi bahaya erupsi terutama berasal dari lontaran batu pijar yang dapat disertai hujan abu lebat. Selain itu, terdapat potensi bahaya berupa aliran lava apabila kembali terjadi erupsi menerus.
Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi hingga 9 September 2026, Badan Geologi mempertahankan tingkat aktivitas Gunungapi Anak Krakatau pada Level III (Siaga).
Masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau, termasuk pengunjung, wisatawan, dan pendaki, tidak diperbolehkan memasuki atau melakukan kegiatan dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunungapi Anak Krakatau.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya awan panas, lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.
Bagi masyarakat yang terdampak abu vulkanik, Badan Geologi merekomendasikan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat disarankan menggunakan masker guna menghindari gangguan pernapasan.
Badan Geologi juga mengimbau masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung untuk tetap tenang serta tidak mempercayai isu mengenai erupsi Gunungapi Anak Krakatau yang disebut akan menyebabkan tsunami.
Masyarakat diimbau tetap melakukan aktivitas seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Informasi mengenai perkembangan aktivitas Gunungapi Anak Krakatau dapat dipantau melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), MAGMA Indonesia, serta kanal resmi Badan Geologi.
Badan Geologi menyatakan tingkat aktivitas Gunungapi Anak Krakatau akan dievaluasi kembali secara berkala atau apabila terdapat perkembangan signifikan. Status Level III (Siaga) beserta rekomendasinya tetap berlaku hingga diterbitkannya laporan evaluasi berikutnya.
- Penulis: Danny M.P
- Editor: Redaksi jurnal8.id


Saat ini belum ada komentar